Sembilan banding Satu

image source: http://depeputra.com

Sembilan banding satu bukan berbicara tentang resep dokter dan bukan juga tentang resep masakan. Sembilan banding satu adalah berbicara masalah karakter yang melekat pada diri manusia. Sembilan banding satu adalah gambaran yang menggambarkan betapa sulitnya kita berterima kasih kepada orang lain yang nyata-nyata telah memberi pertolongan kepada kita, seperti kisah berikut ini.

Alkisah ada sepuluh orang kusta yang merindukan kesembuhan. Kerinduan ini sangat beralasan sebab jika mereka sembuh maka mereka akan terbebas tidak hanya dari rasa sakit tetapi juga bebas dari pengucilan atau pengasingan. Mereka tidak lagi dicap sebagai orang pembawa aib. Kesembuhan itu akan menjadi bukti bahwa mereka sudah bebas dari kutukan dan dosa. Merekapun akan bebas juga bergaul dengan orang lain.

Tetapi apa boleh dikata. Kerinduan itu rasanya sangat mustahil untuk diwujudkan. Penyakit kusta tergolong penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Pada zaman itu belum ada obat-obatan dan dokter ahli, belum ada rumah sakit yang memiliki alat-alat kedokteran yang canggih. Zaman itu sangat berbeda jauh dengan jaman modern sekarang ini.

Di tengah-tengah ketiadaan harapan itu tersiar kabar bahwa Yesus akan lewat di daerah mereka. Yesus Sang Guru Agung, tidak saja pandai mengajar tetapi juga mampu membuat mujisat, bisa menyembuhkan segala macam penyakit dan bahkan orang mati sekalipun dibangkitkanNya.

Ini adalah berita yang sangat baik bagi mereka. Mereka tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan penuh harap, mereka bergegas pergi untuk berjumpa dengan Yesus. Dari jarak yang jauh mereka berseru dan meminta belas kasihan dari padaNYa. Kesepuluh orang kusta itu berseru katanya : “Yesus, Guru, kasihanilah kami”.

Kali ini nasib kesepuluh orang kusta itu beruntung. Yesus memandang mereka dan berkata : Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam. Ajaib sekali, sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir (sembuh). Penyakit kusta tidak lagi ada pada seluruh tubuh mereka. Perasaan mereka dipenuhi rasa sukacita sebab kesepuluh orang kusta itu semuanya sudah benar-benar sembuh total. Yesus telah membebaskan mereka dari sakit penyakit. Namun sangat disayangkan dari kesepuluh orang yang sudah disembuhkan itu ternyata hanya satu orang saja yang kembali kepada Yesus untuk berterima kasih kepadaNya dan memuliakan Allah. Kepada orang itu itu Yesus bertanya : “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada (engkau) orang asing ini?”

Kisah tersebut di atas mencerminkan kehidupan kita pada umumnya. Tidak banyak orang yang tahu dan mau berterima kasih atas pertolongan yang sudah diterimanya. Dari sepuluh orang yang telah mendapat kesembuhan hanya satu yang kembali kepada Yesus. Sembilan orang lainnya menghilang begitu saja entah kemana. Seharusnya tidaklah demikian, sebab kesembuhan yang mereka terima itu memiliki arti yang sangat luar biasa. Mereka tidak saja bebas dari sakit penyakit tetapi juga bebas dari pengucilan dan bisa menjalani kehidupan seperti orang lain pada umumnya.

Sadar atau tidak, jika sampai saat ini kita masih bisa hidup pastilah itu karena berkat pertolongan dari Tuhan. Tuhan maha mendengar, telah mendengar dan mengabulkankan doa-doa yang kita selalu panjatkan kepadaNya. Kitapun menyadari bahwa berkat Tuhan yang sudah kita terima tidak terhitung banyaknya. Tetapi adakah kita mengucap syukur kepada Allah?

Renungkan ! Sembilan banding satu.
Apakah saudara termasuk ke dalam sembilan orang atau pada yang satu orang? Belajarlah selalu untuk bersyukur kepada Tuhan.

Oleh: Pdt. I Gusti Made Alit Purya, M.Min